Mendidik, Adalah Amanah Besar yang Dititipkan di Pundak Seorang Guru
Berkecimpung di dunia pendidikan, adalah satu keputusan besar yang seharusnya dipilih dalam keadaan sangat sadar. Sebab, yang diinvestasikan dalam dunia ini bukanlah sesuatu yang terlihat dalam jangka pendek. Namun sesuatu, yang dibangun terus menerus setiap harinya, dan hasilnya hanya bisa terlihat di masa depan. Membangun karakter anak agar memiliki rasa tanggungjawab yang tinggi, kedisiplinan, kejujuran, kemandirian, daya juang, daya tangguh, empati, dan memaksimalkan potensi. Adalah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran seluas samudera. Pekerjaan yang menuntut diri untuk dapat menguatkan jiwa, merendahkan ego, dan melapangkan dada, serta memiliki keinginan untuk terus belajar seumur hidup.
Betul, ketulusan adalah hal terbesar yang harus dimiliki oleh seorang pendidik. Sebab dari jiwa yang tulus, akan lahir berjuta cinta yang akan dirasakan oleh setiap anak. Ketulusan itu tidak terlihat, namun ia dapat sangat dirasakan. Ia juga dapat menjadi bahan bakar setiap anak untuk dapat terus belajar. Ketulusan akan melahirkan kebaikan. Dengan tulusnya seorang guru, sang anak akan merasa lebih tenang dalam perkembangannya, ia merasa lebih diterima, lebih dihargai, lebih dicintai, dan lebih didukung dalam setiap langkah.
Ketulusan juga berperan seperti bensin yang menghidupkan semangat seorang guru. Raganya mungkin lelah, sebab harus mendesain pembelajaran semenyenangkan mungkin bagi murid, belum lagi menyiapkan administrasi, serta peralatan yang dibutuhkan. Namun guru sejati akan memahami, bahwa mendidik adalah seperti merawat tanaman, perlu disiram, dipupuk, dijaga dari hama, serta di maintenance setiap hari. Seorang guru akan paham, bahwa setiap anak adalah ibarat bunga yang berbeda, ia memiliki warna, kecantikan, dan karakter yang sangat berbeda. Namun seperti tumbuhan yang setiap bagiannya memiliki manfaat, begitupun dengan seorang anak. Ia akan tumbuh, dan terus menyebarkan kebermanfaatan yang luas untuk ummat, insyaaAllah.
Mungkin belum saat ini, perubahan baik itu terlihat pada diri anak. Namun, juga seperti halnya bunga, ia memiliki waktu yang berbeda untuk dapat bermekaran. Tidak ada bunga yang mekar lebih cepat, dan tidak ada yang lebih lambat, mereka akan bermekaran jika memang sudah waktunya. Dan segala upaya yang guru lakukan, insyaaAllah akan sangat bermanfaat bagi tumbuhnya jiwa mereka. Upaya seorang guru yang mengesampingkan ego dalam mendidik. Jika ia marah, maka ia marah karena untuk memperbaiki sikap sang anak, bukan karena egonya semata, apalagi sebagai pelampiasan emosi. Jika ia menegur, maka dengan cara yang baik dan menyejukkan.
Seorang guru mungkin terlihat tega, dengan tidak memberikan anak segala yang dipinta, namun itu adalah bagian dari caranya mendidik, agar anak paham tidak semua keinginan dapat berubah menjadi kenyataan. Terkadang, ada waktu dan usaha yang harus dikorbankan agar keinginan itu dapat terwujud. Ada amanah besar yang dititipkan di pundak seorang guru. Ia harus berazzam dalam melahirkan generasi terbaik, generasi yang beriman, bertaqwa, dan berpegang teguh dalam agama. Guru, memang bukanlah sosok yang sudah baik/terbaik. Ia tetaplah manusia biasa yang penuh kesalahan dan keterbatasan. Namun, perjalanan hidupnya membawa ia untuk terus belajar, terus memahami, dan terus melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Sebab, bagaimana ia dapat merawat jiwa sang anak, jika jiwanya saja rapuh?.
Perjalanan hidup membawanya untuk lebih kuat, dan lebih cepat bangkit dari keterpurukan, karena sudah banyak jiwa yang menunggu semangat dan kehadirannya, yaitu anak-anak. Pada akhirnya, kita akan memahami, bahwa guru, akan bertumbuh bersama dengan anak-anak didiknya.

Komentar
Posting Komentar