Hari-Hari dalam Asma-Nya
Tidak ada yang dapat memungkiri bahwa seorang manusia akan mengeluh ketika ia diberi musibah dan mereka akan merasa senang ketika diberi kenikmatan. Apalagi kondisi keimanan seseorang tak selamanya berada dalam garis aman. Jikalau berbicara tentang hati, bahkan seseorang pun masih mempunyai sekat antara ia dan hatinya. Lalu, siapa yang memegang kendali atas hati manusia? Tentu kita tau bahwa jawabannya adalah, “Allah, Tuhan semesta alam, yang luas singgasana-Nya seluas langit dan bumi bahkan lebih dari itu”.
Tak akan ada yang dapat menentramkan hati manusia melebihi tentramnya ketika mengingat Allah. Apalagi jika hati seorang manusia dihias dengan akhlaq terindah yang Allah inginkan. Menjadikan tasbih ada disetiap hembusan nafasnya, takbir disetiap gerak anggota tubuhnya, tahmid yang selalu menggema dalam pikirannya, dan tahlil yang tak pernah absen dari dalam hatinya. Bukankah skenario dan ilmu Allah itu sangat hebat? Dia tak pernah mengabaikan secuil amal pun dari hamba-Nya yang beramal dengan ikhlash. Dengan sifat-Nya yang lembut, Allah selalu memberikan ketentraman pada hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa. Bahkan, Allah memberikan jalan keluar yang tak terduga bagi permasalahan seorang hamba.
Dengan 99 asma-Nya, Allah mengenalkan betapa kita memiliki Dzat Yang Maha Hebat, yang menjadi muara dari segala urusan setiap kita. Kepada-Nya pula suatu saat kita akan kembali, apakah dengan jiwa yang tenang, atau dengan jiwa yang murka? Jika kita bahagia untuk bertemu dengan Allah, tentu Allah pun merasa bahagia. Tapi, jika kita murka untuk dipertemukan dengan Allah, maka Allah pun akan murka juga. Menjadi pribadi hebat dengan 99 asma-Nya yang mengalir dalam darah kita adalah suatu cita-cita yang luar biasa. Betapa kita ingin berjuang untuk mendapatkan cinta-Nya, mempersiapkan persembahan terbaik ketika bertemu, dan meraih keridhaan, bahkan naungan di hari akhir nanti.
Sebagai seorang manusia, tentu kita memiliki kecenderungan, apakah kita cenderung kepada sifat-sifat setan, atau cenderung meniru sifat-sifat Allah? Misalnya, ketika kita dalam perjalanan dan kendaraan kita disalip oleh orang lain dan ia membahayakan kita. Apa reaksi yang kita berikan? Jika kita memakinya, tentu itu hal yang buruk. Namun, jika kita ingin cenderung dengan sifat Allah, maka kita akan meredamkan emosi, menstabilkan hati, dan tentu mengucapkan hal-hal yang baik. Dengan begitu, kita telah berusaha untuk mengalirkan energi “ash shobur” dalam tubuh kita. Luar biasa kan? Percaya ga percaya, ini juga berkaitan lho dengan ilmu fisika, biologi, kimia, dan psikologis, dan mungkin dengan beberapa ilmu lainnya juga hehe. Seseorang dengan frekuensi yang tinggi tentu akan memancarkan energi yang menginspirasi dan menyenangkan banyak orang. Tapi, kalau frekuensinya rendah ya menyebabkan orang itu depresi, stress, sedih, dsb. yang ujung-ujungnya menyebabkan orang disekitar jadi ga nyaman. Well, kita mesti tau gimana caranya menaikkan frekuensi tersebut, caranya adalah dengan tilawah Al-Qur’an dengan keimanan. Wow banget kan! Semua udah Allah set dengan sebaik-baiknya.
Dengan menerapkan sifat-sifat Allah, seperti pengasih, penyayang, lembut, menjaga kesucian, menebar keselamatan, lapang dalam memberi, adil, pemaaf, pandai bersyukur, menjaga kehormatan, membela kebenaran, berakhlaq mulia, dan lain sebagainya, tentu akan menjadikan kita pribadi yang berjiwa optimis dan tak akan pernah berhenti untuk berkarya. Jika sudah begitu, insyaaAllah akan lahir generasi penerus yang rabani, tak hanya semangat dalam kehidupan dunia, namun juga semangat mempersiapkan bekal di kehidupan akhirat nanti. MaasyaaAllah. Jangan lupa bahagia sahabat
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).
Komentar
Posting Komentar