Arkanul Bay'ah
Bismillah tulisan ini hanyalah sebuah catatan harian kecil sebagai oleh-oleh special dari sebuah kegiatan. Tentunya tulisan ini sangat membutuhkan referensi yang lebih luas lagi. Maka, silakan ambil baiknya dan buang buruknya ya 😊
Arkanul bay’ah, inilah yang mengikat kader dakwah untuk berjanji setia terhadap fikroh dan wajihah yang ia ikuti. Arkanul bay’ah harus di pahami dan di implementasikan dengan baik. Sebagaimana yang telah Allah perintahkan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali ‘Imraan/3:102)
Secara bahasa, arkan berarti rukun, Bay’ah itu janji setia. Maka arkanul bay’ah dapat diartikan sebagai serangkaian rukun terhadap janji setia, yaitu janji seorang jundi/prajurit terhadap mas’ul/ mas’ulah. Zaman dahulu, kaum muslimin juga berbaiat kepada Rasulullah. Materi arkanul bay’ah ini wajib diketahui para kader agar senantiasa semangat.
“Sesungguhnya orang-orang yang berbaiat kepadamu, sesungguhnya mereka berbaiat kepada Allah, tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang mengingkari bai'atnya niscaya akibat pelanggarannya akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa yang menepati baiatnya, maka Allah akan memberikan pahala yang besar.” (Al-Fath : 10)
🌼Rukun-rukun bay'at 🌼
1. Al Fahmu/ الفهم (pemahaman)
Seorang kader harus memiliki pemahaman yang utuh tentang fikroh yang ia perjuangkan, sebab pemahaman adalah sebuah dasar dalam memperjuangkan dakwah. Pemahaman ini harus sesuai dengan perintah Allah dan tak keluar dari ajaran Rasulullah. Seorang kader harus memiliki pemahaman yang syamil dan mutakamil tentang ilmu agama maupun ilmu umum, serta seorang kader harus semangat untuk memahami diri sendiri. “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah berikan ia pemahaman dalam agama.”
2. Al-Ikhlash/ الاخلاص
Semua amal ibadah hanya karena Allah. Jika ada orang yang membenci, kita tidak akan berhenti karenanya, karena kita hanya berharap balasan dari Allah subhaanahu wata’alaa. Kita melakukan amalan atas kesadaran kita dan tentunya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
3. Al ‘Amal/ العمال (Perbuatan)
Al- ‘amal di ibaratkan sebagai buah dari pohon al-fahmu. Maka dalam alqur’an, beramal disandingkan pada kata keimanan. Sedangkan iman tidak hanya berhenti pada kepercayaan, namun juga butuh pembuktian dengan amal perbuatan. Maka janganlah menjadi kader dakwah yang menjadi pohon namun tidak berbuah. Jadilah pohon yang akarnya kuat menancap di dalam tanah dan batangnya tinggi kokoh. Sangatlah penting menjaga amal sampai Allah memanggil kita.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18)
4. Al-Jihad/الجهاد (Kesungguhan)
Yaitu semangat dalam melaksanakan amal-amal kebaikan dalam berdakwah. Karena bisa jadi ada kader yang menjalankan amanah dakwah dengan tidak sungguh-sungguh. Bahkan Allah menyindir orang-orang munafik yang melaksanakan sholat dengan asal-asalan. Maka jangan sampai kita menjalankan amanah dakwah dengan kusaalaa (bermalas-malasan). Dengan begitu akan menentukan apakah dakwah ini bisa maju atau justru malah mundur. Maka dalam hal ini, nasihat-nasihat dari guru ataupun teman ketika kita sedang futhur sangatlah penting.
5. At-Tadhhiyah (Pengorbanan)
Dakwah akan meminta segalanya dari kita: tenaga, pemikiran, waktu, dan sebagainya. Karena hakikat dakwah adalah pengorbanan. Ketika dakwah membutuhkan pengorbanan, janganlah ragu untuk menyambutnya. Jadilah kader terdepan yang membantu dakwah. Ingat, saat Perang Tabuk, Rasulullah mengimbau kepada seluruh kaum muslimin untuk menyedekahkan harta yang ia miliki untuk menghadapi pasukan romawi di musim kemarau. Saat itu, Umar bin Khattab menyedekahkan sebagian hartanya, sedangkan Abu Bakar menyedekahkan seluruh hartanya dan hanya menyisakan Allah dan Rasul-Nya.
6. Ath- Thaa’ah/ الطاعة (Ketaatan)
Yaitu ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, lalu ketaatan kepada mas’ul (selama dalam ketaatan kepada Allah). Ketaatan membutuhkan pelatihan. Ketika ada perintah, “sami’naa wa atho’naa”, bukan “sami’naa wa ‘ashainaa”. Jangan sampai kita tidak taat hanya karena keegoisan pribadi atau karena kebencian pada mas’ul disebabkan kepribadiannya. Allah berfirman :
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan diri kalian di jalan Allah.” (At-Taubah: 41)
7. Ats-Tsabat/الثبت(Teguh)
Termasuk istiqomah, kokoh, tidak bergoyang, walau dalam waktu yang lama. Memegang teguh agama, dalam segi ibadah, muamalah, maupun syariah. Dakwah akan terus diperjuangkan oleh setiap generasi, maka dakwah harus dipegang dengan teguh, dan ingat bagaimana Rasulullah tak pernah kendur dalam memperjuangkan dakwah islamiyyah.
8. At-Tajarrud /التجرد (Totalitas)
Kita meyakini bahwa dakwah yang sedang kita perjuangkan adalah dakwah dalam bingkai ketaqwaan pada Allah dan tidak keluar dari jalan Rasulullah. Totalitas merupakan sikap yang harus dipegang kokoh. Menjaga totalitas agar tetap stabil adalah dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’aala dengan senantiasa men-charge iman dan meningkatkan ibadah kepada-Nya.
9. Al-Ukhuwwah/ الاخوة (Persaudaraan)
Erat kaitannya dengan keimanan. Bahwa orang-orang yang beriman adalah saudara. Sebagai seorang kader dakwah harus memiliki persaudaraan yang lebih kuat, karena kita belajar memberi, menyayangi, dsb. Bahkan Rasulullah tidak berkenan ketika Abu Dzar pernah menyapa Bilal bin Rabbah dengan budak hitam legam.
10. Ats-Tsiqoh/ الثقة (Kemantapan hati)
Pada rukun ini, seorang kader sudah memiliki amal yang luar biasa dan berkorban dengan pengorbanan terbaik. Ia sudah dapat menginternalisasi fikroh yang ia perjuangkan dengan dakwah ini.
MaasyaaAllah semoga dengan diulasnya materi diatas, bisa membuat kita ingat kembali dengan tujuan awal kita, "mengapa kita memilih jalan ini (?)". Dengan tertautnya doa yang melangit dan menyatunya frekuensi yang melejit, semoga ikatan ukhuwah antara kita tak pernah sirna ya 😊
Uhibbukunna fillaah
Komentar
Posting Komentar